TIN PERSAGI 2026: Perkuat Kompetensi, Tata Kelola SPPG, dan MBG 3B Berbasis Data
Temu Ilmiah Nasional PERSAGI 2026 menegaskan bahwa percepatan perbaikan gizi nasional tidak cukup hanya melalui penyediaan makanan, tetapi harus ditopang oleh tenaga profesional yang kompeten, tata kelola layanan yang aman, serta intervensi berbasis data. Tiga materi disampaikan oleh Agustin Kusumayati, Patricia Rolla, dan Minarto.
Agustin Kusumayati, Ketua Konsil Kesehatan Indonesia, menyampaikan âPeningkatan Profesionalisme Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan melalui Penambahan Kompetensi.â Ia menegaskan bahwa KKI, sesuai amanah UU No. 17 Tahun 2023, memiliki peran dalam menjaga kompetensi, kewenangan, mutu, etika, dan disiplin tenaga medis serta tenaga kesehatan. Data KKI per 24 Juni 2026 menunjukkan 2.049.785 STR seumur hidup telah diterbitkan, mencakup 94,02% dari total 2.179.984 tenaga medis dan tenaga kesehatan yang teregistrasi aktif. Dari jumlah tersebut, 227.052 STR diterbitkan untuk tenaga medis dan 1.822.733 STR untuk tenaga kesehatan. Meski STR berlaku seumur hidup, tenaga kesehatan tetap wajib menjaga kompetensi melalui SKP, pelatihan terstruktur, fellowship, sertifikat kompetensi tambahan, dan Surat Registrasi Penambahan Kompetensi.
Patricia Rolla dalam paparannya âBest Practice Pengelolaan SPPG Sesuai Standar BGN", menekankan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi menjadi ujung tombak keberhasilan Makan Bergizi Gratis. Contoh implementasi Yayasan Restu Bunda Emi menunjukkan layanan SPPG di Ciater 1 melayani 3.000 penerima manfaat, Paal Dua 3.001 penerima manfaat, dan Ciater 3 2.541 penerima manfaat. Pengelolaan dilakukan dengan pendekatan inputâprosesâoutputâmonitoringâperbaikan, mulai dari alur dapur berbasis food flow, peralatan food grade stainless steel 304, pemisahan gudang basah dan kering, higiene sanitasi, HACCP, SLHS, SOP tertulis, audit internal, hingga digitalisasi monitoring produksi dan distribusi.
Sementara itu, Minarto, GFF Country Coordinator Indonesia, menyoroti âOptimalisasi MBG pada Ibu Hamil, Anak Balita dan Ibu Menyusui.â Ia menekankan bahwa capaian gizi nasional menunjukkan kemajuan, tetapi belum merata. ASI eksklusif telah mencapai 74,7% dan overweight balita turun menjadi 4,2%, keduanya sudah on target. Meskipun demikian, stunting masih 19,8%, anemia pada wanita usia subur/ibu hamil 27,7%, bayi berat lahir rendah 6,1%, dan wasting 7,4%, sehingga masih membutuhkan akselerasi. Kualitas MPASI juga menjadi perhatian karena anak 6â23 bulan yang memenuhi Minimum Acceptable Diet baru 39,7%, dengan asupan zat gizi mikro terutama zat besi masih rendah.
Keberhasilan program gizi nasional membutuhkan tiga fondasi yaitu, kompetensi tenaga kesehatan yang terus diperbarui, SPPG yang aman dan terdokumentasi, serta MBG 3B yang tidak hanya memberi makanan, tetapi juga memperkuat edukasi gizi, konseling, deteksi dini, pangan lokal/terfortifikasi, Taburia, dan integrasi dengan posyandu serta layanan kesehatan.
ID
