img

TIN PERSAGI 2026 Bahas Pengaturan Makan untuk Perbaikan Metabolisme Diabetes melalui Aktivasi Autophagy

TIN PERSAGI 2026 Bahas Pengaturan Makan untuk Perbaikan Metabolisme Diabetes melalui Aktivasi Autophagy


Temu Ilmiah Nasional PERSAGI 2026 kembali menghadirkan materi ilmiah yang relevan dengan tantangan penyakit tidak menular di Indonesia. Dr. Marudut, BSc., MPS, Ketua DPP PERSAGI Bidang Ilmiah, Kebijakan, Riset dan Inovasi sekaligus dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Jakarta II, menyampaikan materi bertajuk “Pengaturan Makan untuk Perbaikan Metabolisme Terkait Diabetes Mellitus dengan Aktivasi Autophagy.” 

Isu utama yang diangkat adalah meningkatnya beban diabetes mellitus, baik dari sisi prevalensi maupun pembiayaan layanan kesehatan. Berdasarkan data SKI 2023 yang ditampilkan dalam materi, prevalensi diabetes pada usia 18–59 tahun tercatat 1,6% berdasarkan diagnosis dokter, namun meningkat menjadi 10,0% berdasarkan pemeriksaan. Pada kelompok usia 60 tahun ke atas, angkanya lebih tinggi, yaitu 6,5% berdasarkan diagnosis dokter dan 24,3% berdasarkan pemeriksaan. Data proyeksi IDF Diabetes Atlas juga menunjukkan jumlah penyandang diabetes di Indonesia meningkat dari 7,28 juta orang pada 2000, menjadi 19,47 juta pada 2011, 23,33 juta pada 2021, dan diproyeksikan mencapai 28,57 juta pada 2030. 

Beban ekonomi diabetes juga menjadi perhatian. Materi menunjukkan biaya klaim JKN-KIS untuk peserta yang pernah didiagnosis diabetes meningkat dari sekitar Rp2.274,80 miliar pada 2015 dan mencapai puncak Rp8.774,05 miliar pada 2019, sebelum kembali tercatat Rp6.085,92 miliar pada 2022. Di fasilitas kesehatan tingkat pertama, jumlah pasien diabetes-hipertensi juga disebut meningkat dari 400 ribu pada 2014 menjadi 2,8 juta pada 2024, atau sekitar tujuh kali lipat. 

Melalui materi ini, Dr. Marudut menekankan perlunya paradigma baru dalam pengaturan makan diabetes. Autophagy dijelaskan sebagai mekanisme “pembersihan sel” yang membantu degradasi protein abnormal dan organel rusak. Namun, aktivasi autophagy harus tepat, karena aktivasi berlebihan justru dapat mengganggu metabolisme dan memicu kerusakan sel. Dalam konteks sel beta pankreas, pengaturan autophagy yang sesuai berpotensi menjaga kualitas mitokondria dan mendukung sekresi insulin. 

Rekomendasi yang disampaikan menekankan pentingnya pengaturan diet berbasis bukti, kehati-hatian terhadap diet ekstrem rendah karbohidrat yang dapat memicu ketosis, serta pemilihan strategi seperti intermittent Time Restricted Eating (iTRE) secara terukur. Salah satu skema yang dibahas adalah konsumsi 30% kebutuhan energi baseline pada hari puasa, dengan 20 jam puasa selama 3 hari per minggu secara tidak berurutan, sedangkan pada hari tidak puasa konsumsi kembali pada pola makan reguler prastudi. 

Materi ini menegaskan bahwa pencegahan dan pengendalian diabetes membutuhkan pendekatan gizi yang ilmiah, aman, terukur, serta didukung literasi label pangan, pembatasan gula-garam-lemak, dan pendampingan tenaga gizi profesional.