TIN PERSAGI 2026 Bahas Cita Rasa, Mikrobiota Usus, dan Kolaborasi Mu ltisektor untuk Makan Bergizi
Temu Ilmiah Nasional PERSAGI 2026 menghadirkan diskusi komprehensif tentang masa depan pangan bergizi, mulai dari cita rasa makanan, kesehatan saluran cerna, hingga penguatan sistem pangan dalam program makan sekolah. Sesi yang dimoderatori oleh Dr. Marudut, MPS ini menghadirkan tiga narasumber internasional, yaitu Ana San Gabriel, DVM, Ms., Takuya Akiyama, Ph.D., dan Miriam Shindler.
Ana San Gabriel, Senior Adviser Regulatory Science Group, Quality Assurance Department, Ajinomoto Co., Inc., menyampaikan terkait âIntegrating Amino Acid Science and Taste Enhancement for Better Acceptability.â Ia menekankan bahwa makanan bergizi harus tidak hanya sehat, tetapi juga lezat dan diterima anak-anak. Dalam paparannya, asam amino disebut sebagai komponen penting kehidupan; terdapat 20 asam amino penyusun protein, sementara lebih dari 500 asam amino ditemukan di alam. Umami, yang ditemukan Kikunae Ikeda pada 1908 sebagai salah satu dari lima rasa dasar, dipaparkan mampu memperkaya cita rasa dan membantu pengurangan garam. Hal ini relevan, karena WHO merekomendasikan konsumsi garam maksimal 5 gram per hari. Contoh Soto Betawi menunjukkan bahwa umami telah melekat dalam kuliner Indonesia dan dapat dimanfaatkan untuk menu makan sekolah yang sehat, rendah garam, dan tetap disukai.
Takuya Akiyama, Ph.D. dari Yakult Central Institute, Japan, melalui materi âProbiotics and the Path to a Healthier Society,â menjelaskan, bahwa usus merupakan pusat kesehatan tubuh. Mikrobiota usus terdiri dari sekitar 38 triliun mikroorganisme, lebih dari 1.000 spesies bakteri, dengan berat mikrobioma sekitar 1â1,5 kg. Ketidakseimbangan mikrobiota atau disbiosis dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan. Probiotik berbasis bukti seperti Lactobacillus casei strain Shirota/LcS dipaparkan dapat mencapai usus dalam kondisi hidup, mendukung perbaikan konstipasi, serta memodulasi lingkungan usus, termasuk berdasarkan data dari Indonesia.
Miriam Shindler, Team Lead Consumer Nutrition GAIN, menegaskan, bahwa program makan sekolah bersifat multisektoral. Berdasarkan kajian di 43 negara, praktik terbaik tidak hanya berfokus pada isi makanan, tetapi juga keamanan pangan, rantai pasok, petani, pasar, pendidikan, dan lingkungan. Sebanyak 79% program berfokus pada school feeding, 74% menargetkan manfaat sosial ekonomi, dan 82% menempatkan petani serta produksi pangan sebagai simpul penting.
Ditegaskan, bahwa makan bergizi yang berkelanjutan harus aman, lezat, berbasis bukti, mendukung kesehatan usus, serta melibatkan kolaborasi lintas sektor dari hulu hingga hilir.
ID
