img

Program MBG Jadi Peluang Besar bagi UMKM, Petani, Peternak, Pedagang Retail, dan Nutripreneur

Program MBG Jadi Peluang Besar bagi UMKM, Petani, Peternak, Pedagang Retail, dan Nutripreneur


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi strategi nasional dalam memperkuat ketahanan gizi dan kesehatan generasi muda, tetapi juga membuka peluang ekonomi besar bagi pelaku UMKM lokal. Hal ini menjadi salah satu pesan penting dalam materi “Sinergi Keamanan Pangan, Ketahanan Gizi, dan Kesehatan Saluran Cerna serta Edukasi Gizi pada Program MBG menuju Generasi Emas Indonesia” yang disampaikan oleh M. Riza Damanik, Ph.D, Deputi Bidang Kewirausahaan/Plt. Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM RI, pada kegiatan Temu Ilmiah Nasional PERSAGI 2026.


Dalam paparannya, Program MBG diposisikan sebagai ekosistem besar yang membutuhkan sinergi lintas sektor, mulai dari penyedia bahan baku pangan, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), jasa boga, logistik, koperasi, BUMDes, hingga pedagang pasar dan retail. Program ini tidak hanya berbicara tentang penyediaan makanan bergizi bagi penerima manfaat, tetapi juga tentang bagaimana rantai pasok pangan dapat digerakkan dari tingkat lokal untuk menciptakan nilai ekonomi yang lebih luas.


Penguatan penting terlihat pada kebutuhan rata-rata harian satu SPPG. Untuk melayani 3.000 porsi, satu SPPG membutuhkan sekitar 200 kg beras per hari, 3.000 butir telur per penyajian, 150–300 kg ayam fillet per hari, 120–150 kg sayuran per hari, 150–160 kg tahu dan tempe per hari, 345 liter susu per hari, 3.000 butir pisang per penyajian, serta kebutuhan bumbu dapur, minyak goreng, dan perlengkapan operasional dapur. Besarnya kebutuhan ini menunjukkan bahwa MBG memiliki daya ungkit ekonomi yang nyata bagi petani, peternak, nelayan, produsen pangan, pelaku jasa boga, hingga pedagang retail lokal.


Secara khusus, MBG dapat menjadi penggerak ekonomi pada tiga lapis rantai pasok. Pada sektor on farm, program ini membuka pasar yang stabil bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, gapoktan, kelompok tani, dan BUMDes pangan. Pada sektor off farm, peluang terbuka bagi UMKM katering dan jasa boga, UMKM makanan minuman, pengelola limbah makanan, pengolah produk pangan, serta jasa logistik. Sementara pada sektor retail, MBG dapat menggerakkan pedagang pasar, toko sembako, agen LPG, pedagang telur, pedagang ikan, ayam, daging, hingga penyedia kebutuhan dapur seperti sabun cuci piring dan perlengkapan operasional. 


Dengan demikian, MBG tidak hanya memberi makan anak sekolah atau kelompok sasaran, tetapi juga “memberi hidup” pada ekonomi lokal. Dalam konteks ini, Deputi UMKM juga menekankan pentingnya lahirnya nutripreneur, yaitu wirausaha bidang pangan dan gizi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan usaha, tetapi juga memiliki pemahaman tentang keamanan pangan, mutu gizi, keberlanjutan bahan baku, serta edukasi konsumsi sehat. Nutripreneur menjadi peluang strategis bagi ahli gizi, dietisien, pelaku UMKM pangan, koperasi, dan pengelola dapur untuk mengembangkan usaha yang mampu menjawab kebutuhan MBG sekaligus menjaga kualitas gizi masyarakat.

Konsep nutripreneur menjadi sangat relevan karena MBG membutuhkan pelaku usaha yang memahami bahwa makanan bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari intervensi kesehatan. Dalam ekosistem MBG, nutripreneur dapat berperan dalam pengembangan menu bergizi berbasis pangan lokal, penyediaan bahan baku berkualitas, inovasi produk pangan sehat, penguatan keamanan pangan, edukasi gizi, serta pendampingan dapur SPPG agar mampu menghasilkan makanan yang aman, layak, bergizi, dan disukai penerima manfaat.

Juga ditekankan pentingnya orkestrasi keterlibatan UMKM dan peran PERSAGI dalam Program MBG. Rantai pasok MBG perlu dikelola secara terintegrasi, mulai dari hulu berupa nelayan, petani, peternak, UMKM olahan, dan penyedia bahan baku, proses agregasi melalui koperasi, BUMDes, dan agregator lokal hingga dapur SPPG sebagai titik produksi makanan bergizi. Dalam rantai ini, PERSAGI memiliki ruang kontribusi strategis untuk memastikan aspek gizi, keamanan pangan, edukasi gizi, dan kualitas menu berjalan sesuai standar.

Untuk memperkuat kesiapan UMKM dan nutripreneur, Kementerian UMKM juga menekankan pentingnya inkubasi usaha. Inkubator berperan dalam seleksi tenant, diagnostik kebutuhan, pelatihan kewirausahaan, pendampingan, coaching, akses pasar, dan jejaring mitra strategis. 


Selain itu, platform SAPA UMKM diperkenalkan sebagai layanan terpadu untuk membantu pelaku UMKM memperoleh peningkatan kapasitas usaha, kemudahan legalitas dan sertifikasi, akses permodalan, akselerasi pasar, serta penguatan data UMKM.

Secara keseluruhan, Deputi UMKM menegaskan, bahwa Program MBG merupakan peluang strategis untuk menyatukan agenda gizi, keamanan pangan, pemberdayaan UMKM, dan penguatan ekonomi rakyat. Jika dikelola dengan baik, MBG akan berdampak ganda dalam meningkatkan kualitas gizi generasi Indonesia sekaligus memperkuat pendapatan petani, peternak, nelayan, pedagang pasar, pelaku retail, koperasi, BUMDes, UMKM lokal, dan melahirkan lebih banyak nutripreneur yang berani, visioner, dan berdampak.