Medan, 8 Oktober 2026 - Ketua Umum DPP PERSAGI, Ir. Doddy Izwardy, MA., Ph.D., menyampaikan materi mengenai peran ahli gizi dalam meningkatkan status kesehatan ibu dan anak pada kegiatan Kuliah Pakar di Poltekkes Kemenkes Medan, 8 Oktober 2026. Melalui pemanfaatan teknologi dan pangan lokal, Doddy menekankan pentingnya pelayanan gizi berbasis data yang mampu mendeteksi risiko lebih dini, memberikan intervensi sesuai kebutuhan individu, serta menjaga kesinambungan pendampingan keluarga.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Ketua Jurusan Gizi, Dr. Herta Masthalina, SKM., MPH.; Ketua DPD PERSAGI Sumatera Utara, Tridarma Putra Simanjuntak, S.Gz., M.Gz.; Sekretaris Jurusan Gizi, Abdul Hairuddin Angkat, SKM., M.Kes.; serta Ketua Program Studi D3 Gizi, Dr. Rina Doriana, SKM., M.Kes. Turut hadir mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Medan dalam kegiatan yang membahas penguatan peran profesional ahli gizi untuk menjawab tantangan kesehatan ibu dan anak.
Dalam pemaparannya, Bapak Doddy menjelaskan bahwa persoalan gizi ibu dan anak berkaitan dengan kualitas konsumsi, kecukupan zat gizi mikro, penyakit infeksi, pola pengasuhan, serta akses terhadap pangan dan pelayanan kesehatan. Pendampingan ahli gizi perlu berlangsung secara berkesinambungan sejak remaja putri, calon ibu, masa kehamilan, menyusui, hingga tumbuh kembang anak, dengan perhatian khusus pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Pemantauan kondisi ibu dan pertumbuhan anak menjadi dasar untuk mengenali risiko serta menentukan tindakan sebelum masalah gizi semakin berat.
Pemanfaatan pangan lokal menjadi salah satu inti pembahasan melalui pendekatan precision nutrition, yakni penyesuaian intervensi gizi dengan kebutuhan individu dan kondisi setempat. Ahli gizi berperan menerjemahkan kebutuhan zat gizi menjadi pilihan makanan yang tersedia, terjangkau, aman, dan diterima masyarakat. Bahan pangan seperti ikan, telur, kacang-kacangan, serta sayuran setempat perlu dikombinasikan dengan memperhatikan kandungan energi, protein, dan zat gizi mikro. Dengan demikian, pengembangan menu berbasis pangan lokal didukung perhitungan kebutuhan gizi serta biaya per porsi.
Pada aspek teknologi, materi menyoroti penggabungan konseling tatap muka dengan pendampingan digital. Pemanfaatannya dapat berupa pengingat konsumsi suplementasi, jadwal penimbangan, edukasi pemberian makan bayi dan anak, contoh menu lokal, serta akses telekonseling dengan ahli gizi. Pencatatan digital juga dapat membantu memberikan peringatan ketika pertumbuhan anak mulai menyimpang. Teknologi ditempatkan sebagai sarana untuk memperluas jangkauan dan mempercepat tindak lanjut, dengan pengkajian serta keputusan intervensi tetap dipandu tenaga profesional.
Bapak Doddy turut menekankan peran ahli gizi sebagai pengelola kasus berbasis data atau data-driven case manager. Data kondisi ibu, pertumbuhan anak, konsumsi pangan, dan faktor pendukung lainnya digunakan untuk menentukan tingkat risiko serta kebutuhan pendampingan keluarga. Keluarga dengan risiko lebih tinggi memerlukan pengkajian individual, intervensi intensif, dan rujukan sesuai kebutuhan, sedangkan pemantauan berkala menjadi dasar untuk mengevaluasi respons serta menyesuaikan pelayanan. Pendekatan ini memungkinkan sumber daya tenaga gizi diarahkan kepada keluarga yang paling membutuhkan.
Materi tersebut juga menegaskan posisi ahli gizi sebagai penghubung antara pelayanan kesehatan, sistem pangan, dan kebutuhan keluarga. Kolaborasi dengan sektor pertanian, perikanan, pangan, pelaku UMKM, Posyandu, PKK, serta pemerintah daerah dan desa diperlukan untuk mendukung ketersediaan pangan bergizi yang terjangkau. Integrasi data, teknologi, pangan lokal, dan pendampingan profesional menjadi pesan utama kuliah pakar ini dalam memperkuat pelayanan gizi ibu dan anak secara tepat sasaran serta berkelanjutan.
- Nur Faâiq Aminurrohman
ID
