Permasalahan gizi anak di Indonesia hingga saat ini masih didominasi oleh isu stunting, wasting, dan anemia defisiensi besi. Namun, berbagai bukti ilmiah terkini menunjukkan bahwa defisiensi zinc merupakan salah satu masalah mikronutrien yang memiliki kontribusi signifikan terhadap tingginya kejadian infeksi berulang, terganggunya fungsi sistem imun, serta hambatan pertumbuhan anak, meskipun masih belum mendapatkan perhatian yang optimal dalam sistem skrining maupun intervensi gizi nasional.
Zinc berperan sebagai mikronutrien esensial yang terlibat dalam berbagai proses biologis, termasuk menjaga integritas sawar epitel, mendukung fungsi sel-sel imun, serta mengatur respons inflamasi. Kajian ilmiah terbaru juga menunjukkan bahwa tingginya prevalensi defisiensi zinc berpotensi menjadi salah satu bentuk hidden hunger yang memengaruhi kualitas kesehatan anak Indonesia. Di sisi lain, efektivitas suplementasi zinc perlu dipahami berdasarkan indikasi klinis dan didukung oleh pendekatan yang komprehensif, termasuk fortifikasi pangan, skrining berbasis risiko, serta pengendalian faktor lingkungan seperti paparan timbal yang dapat menghambat metabolisme zinc.
Melalui artikel ini, pembaca diajak memahami peran strategis zinc dalam mendukung kesehatan anak berdasarkan perkembangan bukti ilmiah terbaru, sekaligus menelaah berbagai rekomendasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan dalam upaya memperkuat program pencegahan infeksi, penanggulangan masalah gizi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Selengkapnya dapat dibaca pada artikel TIMES Indonesia melalui tautan berikut:
Ditulis oleh:
Dr. Fajar Ari Nugroho, S.Gz., M.Kes. (Ketua Divisi Ilmiah AsNI Jawa Timur/ Pengurus DPC PERSAGI Kota Malang)
ID
