Jakarta, 19 Oktober 2026 - Keahlian di bidang gizi membuka peluang untuk melahirkan inovasi pangan sekaligus membangun usaha yang bermanfaat bagi masyarakat. Peluang inilah yang diangkat Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (DPP PERSAGI) bersama Yayasan Berikan Protein melalui Webinar Interaktif Berseri Pengembangan Kewirausahaan Pangan Bergizi Berbasis Sumber Protein.
Mengusung tema Nutripreneurship Ahli Gizi: Dari Potensi, Inovasi, Jejaring, hingga Dampak di Era Digital, kegiatan ini menjadi ruang bagi ahli gizi untuk memperluas wawasan kewirausahaan. Peserta diajak melihat bagaimana ilmu gizi dapat dikembangkan menjadi produk, layanan, dan solusi bisnis yang tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat. Rangkaian Batch 1 dijadwalkan berlangsung pada 10, 17, 24, dan 31 Oktober 2026 dengan target 250 peserta. Kegiatan ini telah dibuka oleh Sekretaris Jenderal DPP PERSAGI, Prof. Dr. Ir. Trina Astuti, MPS. Pembukaan tersebut menandai komitmen PERSAGI untuk mendorong ahli gizi semakin adaptif, inovatif, dan mampu mengembangkan potensi profesinya.
Empat seri pembelajaran disusun sebagai rangkaian yang saling terhubung. Seri pertama, Profesi Ahli Gizi: Peran, Peluang, dan Masa Depan, mengajak peserta mengenali potensi dan arah pengembangan profesi. Pembelajaran dilanjutkan melalui Transformasi Ilmu Gizi Menjadi Inovasi dan Solusi Bisnis yang menyoroti peluang mengolah pengetahuan gizi menjadi gagasan usaha.
Pada seri berikutnya, Komunikasi, Jejaring, dan Pengembangan Karier Ahli Gizi, peserta diajak memperkuat kemampuan berkomunikasi serta membangun kolaborasi. Rangkaian kemudian dilengkapi dengan Strategi Pemasaran Digital dan Pengaruh Gizi yang Berdampak untuk memperluas jangkauan inovasi dan pesan gizi melalui teknologi digital. Pelaksanaan webinar merupakan kolaborasi panitia DPP PERSAGI dan Yayasan Berikan Protein. Dukungan pengembangan kompetensi melalui Satuan Kredit Profesi (SKP) Kementerian Kesehatan difasilitasi oleh Lembaga Diklat Profesi (LDP) Gizi Svastha Harena.
Melalui kegiatan ini, PERSAGI berharap ahli gizi dapat memperluas kontribusinya, baik dalam pelayanan gizi maupun sebagai inovator, pengembang produk pangan bergizi berbasis sumber protein, penggerak usaha, dan komunikator gizi. Pengembangan nutripreneurship tersebut diharapkan tetap berlandaskan ilmu pengetahuan, keamanan pangan, prinsip gizi seimbang, keberlanjutan, serta etika profesi.
Kesempatan mengikuti pembelajaran ini juga akan dibuka melalui Batch 2 dengan target 250 peserta. Ahli gizi yang ingin mengembangkan kompetensi kewirausahaan dan inovasi pangan bergizi dapat memantau informasi pendaftaran selanjutnya melalui media sosial resmi PERSAGI dan LDP Gizi Svastha Harena.
ID
